lalu, siapa yang peduli denganku?
![]() |
| Source : Google |
masih saja, padahal sudah 4 tahun berlalu
mengapa rangkaian kejadian selama 2 tahun yang dimulai 4 tahun lalu masih teringat jelas sedangkan materi Ekonomi Politik Internasional seminggu yang lalu tak terbesit sedikitpun dikepalaku. Aku mungkin memang seorang pendendam besar yang dibalut kain sutra lambang elegan dalam sikap. Siapa yang tahu bila aku pendendam? Atau mungkin lebih tepatnya, siapa yang tahu bila aku sakit?
Tidak ada
Semuanya sudah bosan, diceritakan olehku tentang rangkaian-rangkaian pengkhianatan yang tidak jua kulepas dari hidupku.
Pada akhirnya, ya. Aku dan dia masih sama-sama terpuruk. Mungkin pada hal yang berbeda, tapi sama-sama jatuh. Bedanya, aku tidak terlihat terpuruk. Aku pintar menutupi dendamku. Ya, dengan berbesar hati (setidaknya ada di dalam hatiku suatu penerimaan) aku mengakui aku dendam kepadanya dan kepadanya.
Dendamku bagai kotoran di dalam luka. Lukanya kering dan sembuh, tapi kotoran masih menumpuk didalam. Menyakiti pembuluh darah mungkin. Karena sakit itu tidak terlihat, jadi siapa yang bakal berempati lagi? Siapapun akan melihat bahwa seperti laporan-laporan di pengadilan, case closed. Kasus telah ditutup, usai. Aku lupa keputusan akhirnya. Tapi sepertinya, keputusan akhirnya adalah ... "kamu harus menerima dan mengalah. Lalu, kamu juga harus mengabaikan rasa sakit dan tidak boleh mengungkit-ngungkit lagi. Kamu tidak salah dalam kasus utamanya, tapi kamu salah karena telah melanggar UU ITE, melanggar sopan santun (karena telah mendesak), dan melanggar dominasi lelaki (karena sempat tidak mengikuti permainannya)." kata sang pengadil, siapalah itu.
Akhirnya.. aku terdiam, aku hanya tersenyum saat ia mengatakan akan rapat padahal menemaninya. aku hanya tersenyum saat ia mengatakan "saja". sepertinya aku handal untuk tersenyum saat tersayat-sayat.
Siapa yang mengerti semua itu?
Siapa yang peduli denganku? Paling-paling hanya akan mengatakan, "kasian ya dia.."
Aku pernah mendengar seseorang bercerita mengenai perbincangan dengan orang lain yang membahasku, di tengah-tengah cerita, ia memang berkata, "kasihan ya s..."
Lalu, siapa yang peduli denganku?

Comments